Selamat Datang...

Dunia tak bermakna tanpa kata...

Sabtu, 14 April 2012

Pilih Mana?



Hidup ini adalah pilihan, penuh dengan pilihan. Baik dan buruk, adalah pilihan. Hitam dan putih, itupun pilihan. Tinggi - rendah, mau - tidak, maju - mundur, itu semua pilihan. Dan setiap pilihan, ada konsekuensinya. Konsekuensi yang harus kita tanggung akibatnya. Apakah akibat itu baik atau buruk.

Ada banyak pilihan yang bertebaran di sekitar kita. Ketika bangun tidur, kita sudah disajikan oleh pilihan: mau segera bangun versi 1 (ambil air wudhu) atau segera bangun versi 2 (tarik selimut, lanjutkan perjuangan). Pilih mana?

Setelah sholat subuh, tersaji juga beberapa pilihan: Tilawah versi 1 (ambil mushaf, pilih surat dan mulai membacanya) atau TILAWAH versi 2 (TIdur LAntai baWAH alias melanjutkan perjuangan semalam :D). Pilih mana?

Ketika hendak sarapan, semakin banyak pilihan yang harus kita ambil: mau NARKOBA (NAsi goReng KarO BAkwan), SHABU (SHArapan BUbur) atau MIRAS (MI Rebus Ala anak koS: menu praktis, lezat dan tak bergizi) :D Pilih mana?

Dan setiap sisi kehidupan kita, tidak akan pernah lepas dari sebuah pilihan yang harus kita ambil. Jalan dakwah, adalah pilihan besar dalam kehidupan kita. Sebuah pilihan yang akan berpengaruh pada penampilan, cara bicara, cara berpakaian, sikap, ide, pola fikir, keinginan dan masa depan kita. Penampilan da’i yang rapi jali pakaiannya, wangi aroma tubuhnya, santun tutur katanya, tentu banyak dipilih oleh audiense (untuk di dengar lagi untaian hikmah yang meluncur dari lisannya). Dibanding da’i yang RAPI (RAda PIlih-pilih baju, sampe baju kusut yang baru diangkat dari jemuran, langsung dipake tanpa setrika dulu), WANGI (WAh...oraNG-orang Iri dengan lalat-lalat yang beterbangan di sekitarnya, gak tahan coy BBnya :D), SANTUN (SANgat menyenTUh kata-katanya dijaNtung, sampai membuat air mengalir dari sela-sela mata dan dahi: sedih bercampur marah, karena kata-kata yang ‘menikam’). Pilih mana?

Saudaraku...
Sadar ataupun tidak sadar, tarbiyah telah menggiring pola fikir kita untuk memilih dan menentukan pilihan-pilihan mulia yang beredar dalam kehidupan kita. Keberadaan kita di jalan ini, adalah pilihan kita sendiri. KITA YANG SUDAH MEMILIH. Jalan yang hanya dipilih oleh segelintir orang. Karena jalan yang dilalui penuh onak dan duri, penuh batu sandungan, batu-batu terjal, bukan jalan yang ditaburi oleh wewangian. Kita sudah mengetahui konsekuensi ketika kita berjalan di sini. Bukan kenikamatan yang berganti dengan kenikmatan lain yang akan kita rasakan. Bukan pula hal-hal yang memang disenangi oleh fitrah kita yang akan kita peroleh. Namun, cobaan dan ujian yang terus kita rasakan. Tak jarang cibiran yang kita dengar, baik dari lingkungan atau bahkan dari keluarga kita sendiri. DAN TERNYATA, KITA TETAP MEMILIH JALAN INI. 


Sodara-sodara !!! (ngomongnya biasa aja ya, gak usah pake gaya khotbah, angkat tangan kanan ke atas dan telapak tangan menghadap ke depan...)

Apa yang kurang dari Kholid bin Walid ketika masih kafir? Gagah, orang terpandang, panglima perang sukses, dielu-elukan. Apa yang kurang darinya??? Harta? Tentu tidak kekurangan sedikitpun. Namun, beliau kemudian memilih untuk mengabdikan seluruh hidupnya untuk Islam padahal pada perang Uhud, dia yang memimpin pasukan kafir sehingga bisa memukul balik pasukan muslim (masih ingat kisah peperangan itu kan?).

Hanzhalah bin Abu Amir tak kalah luar biasa dalam memilih sesuatu. Ia memilih meninggalkan isterinya, yang baru dinikahinya, untuk memenuhi panggilan jihad (padahal waktu itu Hanzalah sedang dalam keadaan Junub lho...). Dan ketika api peperangan telah padam, jasad Hanzhalah ditemukan di sebuah gundukan tanah yang masih menyisakan air, basah sekujur tubuh, syahid. ‘Ghasilul Malaikat’ (Orang yang dimandikan oleh malaikat) gelar itu yang di dapat oleh Hanzhalah atas pilihannya untuk menyambut panggilan Rasulullah SAW untuk turut serta ke Uhud.

Kholid dan Hanzhalah mendapatkan kebaikan atas pilihannya. Lalu, adakah contoh sebuah pilihan yang berakhir dengan kerugian? Tau kisah Ka’ab bin Malik kan? Tau..?? Tau?? #geleng-geleng-Halah...jangan pura-pura gak pernah tau... #angguk-angguk- Nah gitu dong!. Dan sudah tau endingnya kan? Kalo gitu, gak usah diuraikan lagi ya... lagian di catatan yang kemarin menyinggung tentang Ka’ab.

Nah Brother and Sister...
We’ve heard a lot of story about that, choose and its consequencess. And we must be responsible to our chose. Kalau kita mangkir dari tanggung jawab itu, bersiaplah menerima dampak yang lebih besar. Yakin deh...! (penulis sudah membuktikan hal ini :)).

Ikhwah fillah... (sekarang agak serius ya...)
Begitu banyak kepercayaan yang sudah kita dapatkan lewat jalur tarbiyah, lewat jalan dakwah. Begitu banyak yang sudah kita dapat setelah bertahun-tahun mengenyam ‘bangku’ tarbiyah. Begitu banyak jasa yang sudah ‘bermain’ dalam kehidupan kita berjamaah.

Dan Sekarang! Setelah kita ‘mengerti’ atau mengaku ‘dewasa’, kita tidak lagi peduli terhadap jalan ini! Kita begitu angkuh untuk mengakui, karena dakwah, saya dapat segera lulus kuliah,””Karena dakwah, saya memegang jabatan di struktur organisasi (sekolah/kampus/eksternal,. Kita terlalu congkak untuk mengatakan, Karena dakwah, saya mendapatkan proyek untuk menambah uang saku dan pendapatan saya. Dan ternyata kita cukup sombong, sehingga tidak mau mengakui Karena dakwah, saya bisa hidup sampai sekarang. (Jangan salah tafsir, tetap yang menghidupkan dan mematikan hanyalah Allah Yang Maha Kuasa).

Mengapa saya katakan kita sombong, angkuh, de el el???
Saya mau tanya, kenapa Malin Kundang menjadi batu? Jawabannya pasti dah pada tau kan? Karena dia durhaka kepada Bundanya. Rasa apa yang mendasarinya? Malu karena bundanya miskin. Kenapa Malu? Karena ia angkuh, sombong dengan statusnya sekarang yang kaya raya.

Mengapa Qarun di tenggelamkan bersama hartanya? Karena dia sombong, tidak mau mengakui, bahwa hartanya adalah pemberian Allah, sehingga ia tidak mau berbagi. Dengan mantap ia berkata, Ini semua karena saya bekerja keras !!!..... Sudah faham, kenapa saya memberi ilustrasi tsb?
#angguk-angguk-geleng-geleng.
Yaudah, saya kasih tau....cekidot...


Ini semua karena Saya yang maju dalam pencalonan, makanya saya jadi pemimpin organisasi A, B, C. Dakwah??? Kagak ada hubungannya!
Ini mah karena usaha keras saya, makanya saya bisa punya motor impian. Dakwah??? Gak ngaruh!
Inikan saya yang mau njalanin kehidupan, jadi terserah saya dong mau milih siapapun untuk jadi pasangan hidup saya. Dakwah??? Halah...repot amat kali!!! (Kalo ada kader yang ngomong kayak gini di depan saya, saya sumpel tuh mulut dengan roti buaya. Ups...malah keenakan dia ya, lagian susah nyari roti buayanya di sini).

Wallahi, kalaupun kader akan ditukar dengan uang 1 Miliar atau 1 Triliun, Jama’ah tidak akan pernah menerima uang itu (Kalo dikasih uang segitu, tanpa penukaran, mau lah... J just kidding). Pengorbanan, pembentukan, proses yang berjalan, semua tidak akan bisa dinilai oleh materi. Sudah berapa lamakah antum/antunna merasakan kehidupan tarbiyah? Sudah berapa lamakah antum/antunna hidup dalam tarbiyah? Masih berfikir bahwa yang kita capai dan raih sekarang bukan karena dakwah???
#Plak!!! Kalau jawaban antum bukan.


Apakah surga itu tidak cukup memikat hati kita? Sehingga kita memilih untuk ‘belok’, ’bercabang’ dan mengambil keputusan sendiri, tanpa musyawarah dan menyampaikannya kepada Murobbi kita.

Ikhwah... Jangan kau ukir kecewa di wajah Murobbi/Murobbiyahmu...

Jangan kau pahat sungai air mata di pipi saudara seperjuanganmu...

Sungguh... kami mencintaimu karena Allah... Kami bahagia, kalau engkau bahagia.

Namun, jangan jadikan kecintaan kami menjadi alasan bebasnya engkau dalam melakukan sesuatu yang melanggar.

Kami senantiasa memanjatkan doa, untuk kebaikan kami dan kebaikanmu, ampunan dosa kami dan juga ampunan dosamu. Keberkahan kami, dan juga keberkahan keluargamu...

Yaa Muqallibal qulub, tsabbit qulubana ’ala dakwatik..

Ahad, 15 April 2012, ditemani keripik pisang
00.25 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar